Posted by wisatahat1 at 16.43
Read our previous post
Kamu udah dewasa kan? Kalo belum, pertanyaan di judul ini kayaknya perlu dijawab dengan tegas. Tapi saya rasa kamu yang pada baca tulisan ini sudah banyak yang dewasa. Ayo, ngaku aja (bukan nuduh lho, tapi ini sekadar menegaskan).
Eh, tapi nggak salah juga kalo ada yang baca tulisan ini masih belum dewasa alias belum baligh, misalnya anak SD dan SMP. Silakan aja.
Sobat muda,
kalo lihat tayangan televisi di sudut kiri atas
atau kadang di bawah kiri (tergantung maunya masing-masing pengelola televisi
sih) biasanya suka tercantum lambang: “Dewasa” dengan huruf “D”, “Bimbingan
Orangtua” dengan ikon “BO”, dan “Anak-anak” ditulisi dengan ikon “A”; malah ada
juga tontonan satu untuk semua—”SU” alias Semua Umur. Meski efektifitasnya juga
masih belum terbukti dengan bagus.
Oya, konon kabarnya pelabelan itu sebagai bentuk kepedulian
pihak penyelenggara siaran untuk mengelompokkan pemirsanya. Jadi, mereka merasa
bahwa dengan memberikan panduan seperti itu para orangtua bisa memantau
anak-anaknya dalam menonton tayangan televisi. Misalnya, kalo sebuah tayangan
tercantum lambang “Dewasa”, maka ortu berhak menegur anaknya atau memintanya
dengan cepat untuk mengalihkan ke chanel lain. Nah, kamu termasuk kelompok yang
mana nih? Udah dewasa belum? (jawab dalam hati aja ya… soalnya ada juga yang
udah bangkotan tapi masih seneng film kartun—yee apa hubungannya? Emangnya film
kartun khusus anak? Nggak juga kan?—ini kok malah ngelantur kemana-mana)
Oya, sebenarnya dalam “kamus” ajaran Islam tak dikenal
istilah remaja. Ajaran Islam dalam menilai manusia itu hanya dengan dua
kriteria: anak-anak dan dewasa. Perubahan dari dunia anak-anak menjadi dewasa
ditandai dengan perubahan pada hormon-hormon seksualnya, seperti pada anak
laki-laki sudah mengalami ihtilam (mimpi basah, yakni pas mimpi keluar sperma,
bukan karena diguyur air se-ember). Buat anak perempuan sudah mulai haid alias
datangnya ‘tamu bulanan’. Dalam Islam, kejadian itu dikenal dengan istilah
sudah “baligh”.
Nah, jika sudah baligh, berarti ia sudah terbebani hukum
(mukallaf). Artinya, segala perbuatannya dalam menjalani kehidupan ini akan
dicatat. Jika berbuat baik, pahala ganjarannya, jika berbuat salah, dosa yang
ia dapat. Tapi jika masih anak-anak, tak akan dinilai baik atau buruk,
sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Diangkat pena dari tiga orang; orang yang
tidur sampai ia bangun, anak hingga baligh, dan orang yang gila sampai ia
sembuh.” “Pengangkatan pena” (tidak dicatat amalnya)dari mereka maksudnya
adalah mereka bukanlah mukallaf secara syar’i.
Mengenal pubertas
Rasanya nggak ada salahnya jika teman remaja mengenal
masa-masa ini. Bahkan mungkin sangat perlu, karena emang berkaitan dengan
kehidupan kita sendiri. Nah, dalam perkembangan fisik dan jiwa manusia, para
pakar psikologi mengenalkan istilah “masa pubertas” atau puber. Omong-omong,
pada usia berapa sih remaja mengalami pubertas?
Menurut para ahli perkembangan jiwa, usia remaja mengalami
pubertas adalah pada usia 14 - 16 tahun. Masa ini disebut juga “masa remaja
awal”, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas
akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia
memang bukan anak-anak lagi. Catet, bukan anak-anak lagi, lho.
Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari
perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga
mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya
menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pria ditandai dengan datangnya
mimpi basah yang pertama.
Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga
orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar
tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan
psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya
akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya
perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi,
penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya
emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami
perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun,
di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin
kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat
peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri. Itu sebabnya, cenderung semau
gue.
Kesalahan berpikir
Seringkali para orangtua menilai bahwa remaja yang berbuat
“aneh” dan bahkan terkesan nakal dianggap sebagai sebuah kewajaran. Dianggap
biasa saja. Misalnya, ketika ada temen-temen remaja yang mengecat rambutnya
pakai pylox disikapi bahwa itu bagian dari perkembangan jaman. Melihat remaja
yang asyik berpacaran, tak merasa bahwa itu membahayakan. Apalagi sampai
berdalil, “Saya juga dulu seperti itu...” Wah, musibah besar namanya nih kalo
ada ortu yang berpikiran kayak gitu.
Nggak hanya itu, seringkali juga para orangtua secara umum
membiarkan bebas anak remjanya untuk berbuat sesukanya dengan alasan bahwa itu
bagian dari upaya mencari jadi diri. Kalo dikekang, bisa berbahaya. Nah, jika
dikekang bisa berbahaya, apakah ada jaminan kalo dibiarkan bebas sesukanya
tidak akan membahayakan? Betul ndak?
Sobat muda muslim, kesalahan berpikir seperti ini nggak cuma
ada di kalangan para orangtua, tapi juga di antara kita sendiri. Yup, kita
sendiri seringkali menganggap enteng masalah. Bahkan kesannya mengampuni diri
sendiri dan memiliki standar ganda dalam menilai satu masalah. Aneh banget kan?
Misalnya, ketika terlibat tawuran kita bilang ke temen-temen dan ke orang-orang
bahwa kita sebagai remaja pemberani. Ketika kita pacaran, kita bilang ke siapa
pun bahwa kita sudah dewasa. Udah gede. Tapi ketika ada razia KTP atau kena
batunya pas digiring ke kantor polisi, kita ngaku-ngaku masih anak-anak. Biar
nggak kena sanksi alias hukuman. Gimana nih?
Kondisi seperti ini kalo boleh dibilang sebagai “kedewasaan
yang menjanin” dan masa kanak-kanak yang “menua”. Artinya, masa remaja adalah
masa transisi. Lepas dari masa kanak-kanak dan masuk (tapi belum semuanya) ke
masa dewasa. Jadi masih bisa berubah-ubah alias belum stabil. Di sinilah
perlunya bimbingan yang benar dan arahan yang jelas dan pasti. Tidak dikekang,
tapi juga tidak dibiarkan liar. Sehingga tidak terjadi kesalahan dalam
berpikir. Baik bagi para orangtua yang menilai perilaku remaja, maupun bagi
teman remja itu sendiri. Karena apa? Karena kesalahan dalam berpikir akan
membawa dampak yang parah pada penilaian dan penanganan kasus yang terjadi di
kalangan remaja. Contohnya, untuk tindak kriminal remaja, polisi biasanya tidak
bisa memberi hukuman seperti kepada orang dewasa. Bahkan cenderung hanya
memberi sanksi ringan. Padahal, dalam Islam, jika sudah baligh ya sudah masuk
kategori dewasa. Jadi jelas sudah terbebani hukum. Dia wajib melaksanakan
perintah dan wajib pula menghindari larangan yang diatur dalam ajaran agama.
Bukan cuma tongkrongan dan ‘onderdil’
Nah, ngomongin tentang kedewasaan, jadi teringat sebuah
semboyan iklan rokok yang berbunyi, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Cukup
bagus dan menyegarkan. Kenapa? Karena usia tua itu pasti, tapi soal kedewasaan
berpikir belum tentu berbanding lurus dengan usianya. Sebaliknya, meski masih
usia 17-an (setelah baligh), tapi sudah dewasa secara pikiran. Itulah kenapa
dewasa itu disebut sebagai pilihan. Karena apa? Karena memang bisa dipilih.
Bisa diupayakan untuk ‘mengatur’ diri ini dengan hiasan amal kita. Amal yang
baik, atau amal yang buruk. Tapi, sebagai seorang muslim, tentunya kita wajib
banget untuk memilih jalan hidup dan amal perbuatan yang memang dibenarkan oleh
Islam. Oke?
Dalam pandangan Islam, dewasa tidak hanya ditinjau dari
perubahan secara biologis, tapi juga pola berpikir. Itu sebabnya, jika seorang
remaja sudah berpikir dewasa, maka ia akan tahu arti tanggung jawab, meminta
maaf, berkorban untuk orang lain, menghormati orang lain, berjuang untuk agama,
patuh pada orang tua, amanah, jujur, cinta dan kasih, taat pada aturan Allah
Swt. dsb. Jika masih gemar melakukan kemaksiatan, berarti belum dewasa secara
pikiran. Padahal, secara biologis sudah sangat dewasa, gitu lho.
Itu sebabnya, seringkali kita saksikan dalam kehidupan nyata
ada orang yang masih betah berbuat maksiat. Padahal, umurnya sih udah menjelang
“maghrib” alias udah sepuh. Kepada model orang yang seperti ini, kita bisa
bilang bahwa dia belum dewasa. Secara fisik memang udah dewasa, tapi secara
pemikiran dan perbuatannya masih “anak-anak”. Cemen deh!
Sobat muda muslim, dengan kata lain, bukan cuma tongkrongan
dan ‘onderdil’ di tubuh sebagai ukuran untuk menilai sebuah kedewasaan. Terlalu
sederhana. Karena dalam Islam, selain ukuran fisik, cara berpikir dan apa yang
dilakukan juga harus masuk penilaian.
Menyiapkan diri jadi dewasa
Karena menjadi dewasa adalah sebuah “pilihan”, maka tentunya
harus direkayasa alias disiapkan. Nggak bisa dibiarkan alami. Karena memang
jadi dewasa dalam cara berpikir itu bukan kebetulan, tapi pilihan. Itu
sebabnya, ada pelatihannya juga. Memang sih, model pelatihannya nggak perlu
dibuat semacam jenjang akademik, tapi melalui “schooling society” (sekolah
kehidupan). Di sinilah kita belajar. Istilahnya, “learning society”. Belajar dari masyarakat.
Kita bisa membandingkan para pemuda Islam di jaman
Rasulullah saw. Banyak para pemuda di jaman itu yang rindu dan cintanya kepada
Islam sangat besar. Salah satunya yang membuat mereka seperti itu adalah karena
kondisi kehidupannya mendukung. “Sekolah kehidupan” telah mengajarkan dan
membentuk kepribadian yang begitu hebat. Itu sebabnya, jika sekarang banyak
remaja yang amburadul ketimbang remaja yang baik-baik, itu juga karena model
kehidupan yang diajarkan di masyarakat nggak benar. Gimana pun juga, individu
itu pasti akan terwarnai oleh kondisi masyarakat. Kalo masyarakatnya rusak
seperti sekarang, kayaknya udah alhamdulillah banget kalo masih ada remaja yang
selamat kepribadiannya.
Sobat muda muslim, singkat kata, untuk menjadi remaja yang
dewasa tentu satu-satunya cara adalah dengan belajar. Tanpa belajar, kita nggak
akan tahu bagaimana cara berpikir yang dewasa dan islami, kita nggak akan ngeh
juga seperti apa berbuat yang benar, dewasa, dan sesuai ajaran Islam. Sabda
Rasulullah saw.: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia
diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan
belajar.” (HR Bukhari)
Nah, untuk memudahkan kita dalam berpikir dan berbuat
dewasa dalam pandangan Islam, wajib juga adanya peran besar dari negara untuk
mewujudkannya. Seperti apa? Misalnya, negara harus mengawasi isi media massa
untuk remaja. Kalo merusak, tegur. Bila bandel, beri sanksi. Terus, rajin juga
ngasih pembinaan mental. Setuju?

Aku masih bayi, belum Dewasa... :D
BalasHapusgmn, mas sndri uda dewasa blum??
Kalau uda, sudah segeralah...laksanakan...:D
baik..
BalasHapusLAKSANAKAN!!!
Tp nuggu anak bayinya tmbh dewasa dulu hehe.....:P